Kamu in a relationship with Dia
kenapa kamu hanya diam,
sungguh keterlaluan bila itu
kamu tampakkan padaku seenak perut
seenak masamu
seenak cangkemmu
tak kau rasakan ya, dentuman itu
bila rapat
bila mendekat
bila sarat
intinya —- kamu jahat
setidaknya kirimi aku pesan, katakan,
kamu pergi saja
kamu tak usah cintai aku seperti itu, lagi
kamu bisa dapatkan seseorang lain, yang lebih baikĀ atau,
aku tak menyukaimu seperti kamu. sudahlah.
itu, kau tahu, malah lebih baik, dari pada kaubiarkan
aku membuka facebook lalu
mati terduduk karena
Kamu in a relationship with Dia
sepadat-padatnya kerjaku, sedapat-dapatnya kejar kamu. Deidra ngotot maunya sama kamu.
dan antara
sebut saja aku serta kamu. ketika berubah jadi kita. kenapa masih harus ada dia dan mereka? sumpah. serapah. cuma canda. tawa sih. kamu dan muak kamu. persetan saja tentang semua itu, hei! apa hubungannya dengan aku dan rasa aku? katakan saja biar, katakan saja terserah, katakan saja diamlah, katakan saja sama-sama sayang, katakan saja iya, katakan. selamat malam minggu.
manusia lobak
aku bukan lobak! warna kulitku cokelat manusia dan aku bukan untuk kaurajang. sialnya lagi, aku manusia! yang punya hati penuh luka dan berat sekali untuk dirajang bagai lobak. mati yuk.
biar
sakit kalau tetap kutahan. aku lebih suka mengeluarkannya tanpa kauhina. jahat kalau kau membuang-buang hal ini bagai pesawat kertas. buktinya kamu masih hidup sampai sekarang, berarti aku tak salah selalu kasih tahu kamu bukan? jika benar-benar ada, meski sedikit, aku mau tunggu hingga seribu-ribu-ribu tahun lagi. kalau nggak lupa ya.
bahkan kertas tipis melukaimu
apalagi manusia. yang kulitnya lebih coklat lagi dari pada kertas. apalagi cinta. yang rasanya manis namun meracunimu seolah kamu sedang makan kertas. apalagi orang tua kita, ah, orang yang kita cintailah yang paling melukai kita. oh apalagi Tuhan! ya aku sangat mencintai-Nya. Tuhan melukaiku seperti aku ini selembar kertas saja. seperti aku ini tak pernah disakiti sebelumnya. kertas dan manusia, mereka berengsek memang.
rasanya, kalau kamu mau tahu, pahit
rindu dikadang kala, kadung menyala tak lagi kan redup, tak lagi-lagi.
kamar hangat
bangun-bangun ada kamu. bukan di depanku tapi dalam mayaku, kamar mulai panas, mataharinya keterlaluan. sedikit demi sedikit aku bergerak mencari ponsel, inspirasiku meletup. bau apel dari rambutku bikin mabuk. rambutmu yang lucu itu, bau apa memang? ————- aku lalu berdoa: ‘semoga waktu menghentikan semua kecuali aku, agar dapat kucium bau rambut berbentuk gaun putrimu.’ selamat pagi Senin yang malas menapak, terima kasih hangat kamarnya.

